Showing posts with label Aqidah. Show all posts
Showing posts with label Aqidah. Show all posts

Pengantar Penjelasan Kitab Tauhid



بسم الله الر حمن الر حيم

اَ لْحَمْدُ للهِ, َو صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَ عَلَى اَ لِهِ وَصَحْبِهِ وَ سَلَّمَ

كِتَابُ ا لتَّوْحِيْدِ
Kitab Tauhid

Tauhid dibagi menjadi dua yaitu tauhid ‘amm (umum) dan tauhid khass (khusus).
1.Tauhid amm adalah mengesakan Allah dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma wa shifat-Nya.
2.Tauhid khass adalah mengesakan Allah dalam hal ibadah (uluhiyyah)
Beliau (Syaikh Muhammad At Tamimi) dalam kitab ini memulai dari tauhid, berdasarkan hal ini bisa diambil faidah bahwa dalam berdakwah harus bertahap atau perlahan-lahan. Kita jelaskan dulu mengenai keutamaan tauhid itu sendiri, apa itu tauhid, baru kemudian syirik asghar dan perbuatan yang termasuk dalam syirik asghar, syirik akbar dan perbuatan yang termasuk dalam syirik akbar, setelah itu mengenai hal yang mungkin agak sulit diterima bagi mereka yaitu mengenai tidak diperbolehkan mengkultusan orang-orang shalih apalagi beribadah kepada mereka.

وَ قَوْلُ اللهِ تَعَالَى :وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ  
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.  (Adz-Dzariyat:56)
Kata يَعْبُدُونِ (ibadah) jika dimutlakkan bermakna tauhid.

Faedah dari surat Adz-Dzariyat:56 adalah
- Wajibnya mengesakan Allah dalam hal ibadah (hal ini berlaku bagi jin dan manusia)
- Menerangkan hikmah diciptakannya jin dan manusia
- Yang memberi rizki dan yang menciptakan kita-lah yang berhak diibadahi

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا ٱلطَّٰغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ ٱلضَّلَٰلَةُ ۚ فَسِيرُوا فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ



Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). )An Nahl:36)

Faedah dari surat An Nahl:36 adalah

  • Thaghut adalah segala sesuatu yang disembah atau diikuti atau ditaati selain Allah dan dia (yang disembah atau diikuti atau ditaati selain Allah) ridha dengannya.
  • Hikmah dari diutusnya para rasuladalah untuk mendakwahkan tauhid dan memberantas kesyirikan
  • Agama para nabi adalah satu, mereka semua mendakwahkan tauhid, yang berbeda adalah syariat-syariat yang dibawa oleh para nabi sebelum Rasulullah صلى الله عليه و سلم Adapun setelah Rasulullah صلى الله عليه و سلم diutus, syariat beliau berlaku untuk seluruh ummat, tidak khusus untuk bangsa ‘Arab saja
  • Risalah berlaku untuk setiap ummat sesuai dengan yang dibawa oleh rasul yang ada pada zamannya dan apa yang Allah turunkan akan menjadi hujjah untuk seluruh manusia
  • Keagungan tauhid
  • Keagungan kalimat لا ا له الا الله . Dalam ayat di atas terdapat nafi dan itsbat. 

Masih Ragukah Anda Bahwa Allah di Atas Semua MakhlukNya?

Alhamdulillahirabbil ‘alamin wa sholatu was salam ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala ‘aalihi wa shohbihi wa sallam.

Dalam tulisan ini saya akan membawakan dalil-dalil baik dari Al-Qur’an maupun Hadits yang shahih yang menunjukkan ketinggian Allah di atas seluruh makhlukNya. Dan bahwasahnya Allah itu berada di atas, yaitu Allah beristiwa’ di atas Arsy. Dan inilah aqidah besar yang diimani oleh para Shalafus Sholih dan para Imam yang banyak diikuti pendapatnya. Hanya saja bukan dalam artikel ini penulis akan menyebutkan ucapan ulama yang sangat banyak jumlahnya yang beriman bahwasahnya Allah berada di atas langit, Allah berada di atas Arsy.

Sebelum saya bawakan dalil yang sangat banyak mengenai hal itu, saya akan menerangkan sikap kita dengan dalil-dalil yang menyebutkan tentang Asma’ dan Shiffat Allah. Yaitu kita beriman sebagaimana yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an atau yang disabdakan Rasulullah tanpa melakukan tahrif (penyelewengan makna), ta’thil (menolak), tasybih (menyamakan dengan makhluk), maupun takyif (menyanyakan bagaimananya/kaifiyahnya).